♥♥Kisah Muslimah yang Membeli Surga♥♥
Surga, tiap orang mukmin
pasti mengharapkan di tempatkan ke sana ketika mereka mati kelak. Karena
surga adalah tempat terbaik tempat hamba-hamba yang soleh dan solehah
berada. Di mana mereka dapat melihat dzat yang menciptakan mereka, di
mana Alla melimpahi mereka denga ridho dan kenikmatan yang tak bisa di
bayangkan di dunia. Tapi, kebanyakan manusia lupa akan hal itu. Jalan
menuju surga tidaklah sulit, semua jalan yang menuju surga pasti
memiliki jalur kebaikan yang pasti. Tapi kebanyakan manusia terlalu buta
karena nikmat dunia. Mereka terlena, mereka lupa, bahwa dunia hanyalah
tempat sementara. Hanya mereka orang-orang yang mendapat hidayah yang
sadar akan berhargnya sebuah tempat di sisi Tuhanya. Bahkan mereka
bersedia mengorbankan dunianya demi membeli surga mereka. Maka kali ini
saya akan coba berbagi sebuah kisah muslimah yang mencoba membeli
tempatnya di surga. Memang butuh perjuangan yang berat. Tapi kita harus
yakin, Allah tak akan menyia-nyiakan pengorbanan dan ketulusan hamba
yang murni ingin mendekatkan diri dan mengharap ridhonya semata.
Panggil
saja dia umi jainab. Seorang janda tua yang tak memiliki anak. Suaminya
sudah dua tahun yang lalu mendahuluinya menghadap sang pencipta.
Hidupnya miskin, hanya sebuah gubuk tua di pinggir desa yang menjadi
tempatnya bernaung. Suasana sepi dan terpencil, jauh dari rumah-rumah
penduduk yang lain. Tiap hari umi jainab bekerja sebagai buruh cuci, dia
berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mencari orang yang
membutuhkan jasanya. Pelangganya adalah para penduduk yang merasa iba
pada umi jainab. Karena wanita tua yang miskin ini hidup sebatang kara
tanpa ada yang membantunya. Tapi terkadang para penduduk desa merasa
heran terhadap apa yang di lakukanya. Penghasilan umi jainab sebagai
buruh cuci tidaklah seberapa. Tapi tiap hari dia selalu menyisihkan
sebagian penghasilanya untuk menyumbang masjid atau membantu sesama yang
mebutuhkan. Padahal dia sendiri hidup serba kekurangan. Tiap hari dia
merelakan diri untuk berpuasa, demi bisa menyisihkan sebagian
penghasilanya untuk dia darmakan. Sungguh sikap yang terpuji tapi berat
untuk dapat di laksanakan semua orang. Bahkan orang-orang yang memiliki
harta berlebih saja sangat sayang mendarmakan sebagian harta mereka.
Kenapa umi jainab yang sudah memiliki kehidupan sangat susah masih
menyempatkan untuk membagi sebagian rizki yang di dapatnya untuk orang
lain? Bukankah dia juga sama membutuhkanya?
Itu adalah sebuah
pertanyaan besar yang tak bisa di jawab oleh semua orang. Hingga pada
akhirnya, ada seorang tetangganya yang coba bertanya pada umi jainab
tentang semua hal yang umi jainab lakukan.
“Umi.. bukankah
kehidupan umi juga susah? Kenapa masih sempat menyisihkan sebagian
penghasilan umi yang sudah sangat sedikit itu? Bukankah umi juga sangat
membutuhkanya?”. Tanya tetangga itu.
“Aku coba membeli surga ku.. “. Jawab Umi Jainab.
Jawaban tersebut tentu saja membuat si tetangga bingung tak mengerti. Hingga akhirnya dia bertanya lagi.
“Maksud Umi apa?”. Kata si tetangga.
“Aku
sudah hidup sengsara di dunia. Tak memilki anak, di tinggal sumi, aku
hanya sebatang kara di dunia ini. Yang ku miliki hanya Allah saja. Aku
ingin di akui oleh Allah sebagai hamba yang taat. Agar kelak aku bisa
bertemu dan melihat wajah Penciptaku yang Agung secara langsung. Dan
yang dapat melihat Dia dan mendapat ridho serta kasih sayangnya adalah
mereka yang berada di dalam surga. Sedang mereka yang di neraka akan
selamanya di laknat dan Allah tak akan mau melihat mereka. Oleh karena
itu, aku coba membeli tempat ku di surga. Mencoba menjadi hamba yang
baik di mata Allah. Agar aku di akui olehNya sebagai hamba-hamba solehah
yang petut menempati surga untuk dapat melihat wajahnya setiap saat..
Jika aku sudah sengsara di dunia, dan masih saja menjadi hamba yang lupa
pada Tuhanya dan malah terus mengejar dunia. Maka, tak ada apapun yang
akan ku dapat. Selain kesengsaraan di dunia dan akhirat yang kan ku
sesali selamanya..”. jawab Umi Jainab.
Mendengar jawaban itu, si
tetangga menjadi terdiam. Hatinya terasa di tusuk-tusuk oleh duri yang
tajam. Dia mulai sadar akan tiap kekhilafanya. Kini Allah telah
mengingatkanya lewat kata-kata wanita muslimah solehah yang miskin akan
dunia, tapi kaya akan iman dan cinta kepada Allah. Dan si tetangga pun
menangis, menyesali tiap apa yang dia lupakan selama ini. Dia mulai
sadar, dan berniat untuk menjadi hamba yang lebih baik untuk sama-sama
membeli surga.
Dari kisah muslimah ini, kita dapat mengambil
banyak teladan. Terkadang gemerlapnya dunia membuat kita lupa akan
banyak hal. Bahwa dunia bukan tempat selamanya kita berada. Kelak, masih
ada hari kebangkitan, di mana tiap orang mendapat balasan yang adil
akan tiap perbuata yang mereka lakukan. Wahi para muslimah, dapatkah
kalian membeli surga kalian? Dapatkah kalian mencontoh kisah wanita
muslimah ini? Yang tak pernah mementingkan materi demi mendapat ridho
Illahi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar